Cara Mengajak Anak Agar Mau Membaca

Tak mudah mengajak anak menyukai kegiatan membaca. Kegiatan membaca membutuhkan energi khusus. Selain ketekunan , tekad kuat, juga hobi. Anak-anak usia pra-sekolah, tidak seharusnya diajari membaca, tapi memberinya contoh membaca dengan cara yang menggembirakan, tidaklah dapat disalahkan. Dengan cara itu, orangtua tidak perlu resah bila setelah lulus RA (setingkat dengan Taman Kanak-Kanak), anaknya yang masuk SD (Sekolah Dasar) belum lancar membaca apalagi menulis. Sebab, pada usia itu proses pembelajaran dilakukan lewat cara yang menyenangkan anak.

Selama ini, para orangtua selalu merasa khawatir apabila anaknya tidak pandai membaca, menulis dan berhitung saat masuk SD. Tidak jarang para orangtua menyampaikan tuntutan agar guru-guru RA mengajari anak-anaknya membaca, menulis dan berhitung. Ada yang memasukkan anaknya mengikuti les baca dan tulis, karena di RA dianggap tidak diajari baca tulis. Ada juga yang memberikan Pekerjaan Rumah (PR) menulis dengan sanksi tidak boleh tidur malam sebelum selesai Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan ibunya. Mengajarkan menulis dan membaca kepada anak-anak RA (TK), akan membuat mereka mengalami tekanan ketika kelas 4-5 SD (Sekolah Dasar). Kalaupun mau mengajarinya, ajarkan dengan cara yang menyenangkan, misalnya mengeja sambil menyanyi.

Bila diperhatikan dengan seksama, kita akan menemukan kata kuncinya yaitu menyenangkan dan gembira. kalau demikian,yang lebih layak adalah mengajak bukan mengajari. Terdapat perbedaan mendasar antara mengajak dengan mengajari. Mengajak lebih banyak memberikan contoh yang secara tidak disadari akan diikuti oleh anak. Pemberian contoh akan lebih mudah bila disampaikan lewat irama-irama yang menyenangkan. Kegembiraan biasanya akan terpancar dari mereka apabila berhasil menirukannya. Proses pembelajaran telah terjadi, dan anak tidak merasa terbebani.

Lain halnya dengan mengajari. Proses ini akan melibatkan anak untuk mencerna materi yang disampaikan guru, sehingga mereka lebih banyak duduk diam menguras otak untuk menghafal. Padahal kemampuan otak anak usia RA tidak bisa disamakan dengan kemampuan otak anak usia SD. Benar, dalam waktu singkat bisa saja seorang anak pandai menulis dan membaca. Namun, anak-anak tersebut umunya mengalami gangguan belajar pada saat mereka duduk di kelas 3-6 SD. Pada artikel saya yang berjudul "Baca Tulis Hitung : Dikenalkan atau Diajarkan ?" akan ditemukan metode terbaik tentang bagaimana seharusnya yang kita lakukan dalam menyikapi persoalan di atas.

Lalu Bagaimana?

Anak-anak usia di bawah lima tahun, memang tidak seharusnya dibebani hal yang berat. Belajar membaca dan menulis, apalagi berhitung, termasuk kegiatan yang menguras energi. Mereka sedang mengalami proses tumbuh kembang, dan tidak seharusnya dibebani nenam yang berat dalam ukuran usia mereka. Kalaupun dipaksakan, para ahli menyebutnya sebagai proses pembunuhan karakter anak. Anak yang seharusnya berjiwa bebas dan gembira, dibunuh karakternya dengan pelajaran menulis dan membaca.

Dunia anak adalah dunia kegembiraan. Maka proses pembelajaran pun tidak terlepas dari hal-hal yang membuat mereka gembira. Mengajak anak-anak senang membaca, dapat diawali dengan mengeja dua suku kata sambil bernyanyi. Sebagai contoh dapat kita perhatikan berikut ini :
 B-A-B-U  BABU, B-I-B-I  BIBI, B-A-S-O  BASO, dan sebagainya, dalam irama lagu "Pak Dullah Tukang Cukur". Solmisasinya 5-1-5-7-6-5 (sol-do-sol-si-la-sol). Para guru dapat mengubah irama lain, asal memenuhi dua suku kata, karena ini hanya pengenalan dalam rangka memicu semangat belajar tanpa merasa terbebani.

Sementara menulis, dapat dikenalkan dengan cara menyambungkan titik-titik yang membentuk huruf. Lewat metode ini, motorik kasar dan halus anak dapat terlatih dan terbiasa. Tanpa merasa dibebani, biasanya anak dapat menyebut huruf yang ia sambung-sambungkan titik-titiknya, lalu mengejanya sambil bernyanyi.

Buku menyambung titik tersebut lebih bagus lagi bila disertai gambar sesuai dengan tema tulisan. Misalnya tulisan BEBEK, di atasnya terdapat gambar itik yang sedang berenang. Tanpa diminta, anak biasanya menirukan suara bebek, wek-wek-wek. Atau huruf yang disesuaikan dengan kesenangan anak, contohnya BASO, diatasnya trerdapat gambar anak yang sedang makan mie baso. Tanpa ditanya, anak akan mengaku ia senang makan baso.

Memang tidak mudah mengajak anak untuk gemar membaca. Jangankan anak-anak, para orangtua saja yang telah mampu membaca dan menulis, lebih senang menonton gosip kalangan artis, daripada membaca buku-buku ilmu pengetahuan (termasuk saya kadang-kadang he he he). Padahal, dengan banyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan, para orangtua sesungguhnya akan memetik manfaat yang banyak bagi kehidupan mereka. Setidaknya, anak akan tertarik untuk mengikuti kebisaan orangtuanya yang gemar membaca. Tanpa diperintah pun, anak akan membaca buku, sekalipun hanya sebentar saja. Atau ia akan mencari berita tentang kesebelasan favoritnya di koran-koran langganan ayahnya.

 Lewat contoh dan kegembiraan di atas, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada anak berlangsung dengan halus. Lewat cara ini pula, tidak perlu khawatir anaknya tidak cakap membaca, menulis dan berhitung. Sebab, mahir membaca, menulis dan berhitung membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan kesiapan mental si anak yang masing-masing berbeda. Semoga dapat bermanfaat untuk para pembaca semua.
    






Anda baru saja membaca artikel yang berkategori mental education dengan judul Cara Mengajak Anak Agar Mau Membaca . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://propofit3.blogspot.com/2013/04/cara-mengajak-anak-agar-mau-membaca.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: ROFAI FAI - 2013-04-20

Belum ada komentar untuk " Cara Mengajak Anak Agar Mau Membaca "

Poskan Komentar

Terima Kasih Atas Kunjungannya Ya